Login | Daftar
Semua Daftar Pesanan
Kosong
IdFilmCenter
@idfilmcenter
Beritahu teman!
Berita
Messageboard
Blog
Bantuan
Kontak kami
Beri donasi ke Indonesian Film Center. Bantu kami melestarikan dan merestorasikan Materi Audio-Visual Indonesia. Lihat juga Tentang kami.
Blog IdFilmCenter

Cannes 2012

Tanggal posting 19 Juni 2012, dibaca 6660 kali

 

Rabu 16 Mei 2012 – Kamis 17 Mei 2012
Saya dalam perjalanan menuju Festival Film Cannes.
Saya selalu pergi ke Cannes dengan kepentingan memilih film untuk Jakarta International Film festival (JiFFest) karena saya adalah direktur JiFFest selama 4 tahun. Sayangnya sekarang ga ada lagi JiFFest. Setelah saya keluar, ga ada yang bisa mencari uang untuk menyelenggarakannya.
 
 
Nah sekarang saya ke cannes untuk tujuan yang lain, saya menjalani tugas baru saya sebagai direktur Festival Film Europe on Screen. Festival Film Europe on Screen adalah festival film kecil yang berlangsung di Jakarta berlangsung dari 23 November 2012 hingga 2 Desember 2012.
 
Cannes adalah tujuan utama saya, karena disana kebanyakan agen penjual film berdatangan, dan banyak negara yang membuka booth (pameran) untuk mewakili komunitas film mereka.
 
Selama 10 hari penyelenggaraan Festival Film Cannes sekitar 25.000 – 40.000 penjual dan pembeli, produser dan sutradara saling bertemu. Mereka semua bertemu untuk keperluan bisnis. Kebanyakan dari kita melihat Cannes sebagai tempat dimana kita bisa menyaksikan aktor aktris kenamaan yang berjalan dan melewati karpet merah (red carpet). Kompetisi film dari festival lah yanglebih penting dari segala hingar binger dan keglamoran yang dipertontonkan di luar. Mayoritas orang datang ke Cannes ya untuk berbisnis.
 
Secara samar-samar para produser film yang muncul di beberapa ajang kompetisi film berusaha menjual film mereka, namun terdapat lebih dari ratusan film yang ditawarkan Marche du Film (Pasar film). Marche du Film adalah pasar film terbesar di dunia. Ini merupakan pasar sungguhan. Terdapat banyak sekali booth (pameran) yang memamerkan poster-poster dan menyuguhkan katalog berisi penjelasan film apa yang mereka jual. Bisa jadi aksi, komedi, semi-porno, dan genre lainnya.
 
Para distributor berkeliling untuk membeli. Kita bisa melihat banyak sekali film pada booth (pameran) atau pada pasar yang diputar pada satu teater mini di Cannes. Kebanyakan dari film-film tersebut adalah film yang tidak dilombakan, seperti drama India atau thriller Afrika Selatan atau horror Thai.
 
Selanjutnya perbisnisan terjadi di kamar hotel, di selasar disela-sela pesta-pesta dan makan siang. Atau hal lain yang terjadi adalah para produser ini hadir di Cannes untuk membeli atau menjual film mereka, atau semacam pra-jual naskah film mereka, atau mencari sumber pendanaan film yang mereka buat.
 
Diluar pasar film, sepanjang the Croisette, terdapat pavilion dimana banyak negara-negara mewakili komunitas film negara mereka masing-masing menetap. Perusahaan beras seperti EuroCorp milik Luc Besson atau Weinstein Company atau produser besar yang independen memiliki tempat menetap terpisah di La Croisette. Ribuan orang berjalan naik turun di the Croisette setiap hari untuk menghadiri satu pertemuan menuju ke pertemuan lain. Pokoknya rame banget, sibuk, dan juga pastinya keramaian yang ditimbulkan oleh banyaknya turis yang hanya sekedar ingin melihat pesona para aktor –aktris di atas karpet merah
 
Saya di Cannes untuk memilih beberapa film untuk festival Film Europe on Screen. Memilih film sih pekerjaan yang tidak sulit, tapi memperoleh izin untuk mendapatkan film itu loh yang susah setengah mati. Film besar punya agen penjualan (mereka berada pada sebuah booth di Marche atau pada sebuah kantor yang disulap menjadi kantor di La Croisette). Agen-agen penjualan ini masuk ke bisnis perfilman ya untuk mengumpulkan pundi-pundi uang. Mereka berupaya menjual film mereka kepada sebanyak mungkin pihak-pihak.
(Sekalipun kita terkadang melakukannya sebagai pre-premiere sebelum film yang kita miliki di rilis di bioskop-bioskop). Fungsi dari festival adalah untuk memperlihatkan beberapa hal yang mungkin tidak dapat disaksikan selain disini. Jika film tidak terjual kepada Indonesia, maka agen penjualan tetap mengharapkan biaya pemutaran, karena mereka tetap menginginkan uang. Pada umumnya mereka meminta 1.000 dollar untuk dua kali pemutaran. Jumlah yang fantastis untuk film festival adalah untuk keperluan biaya pengiriman print 35mm. Itu sebenarnya yang menjadikan sebuah festival sangat mahal.
 
Maka dari itu, jika film nya “kecil”, kurang popular atau kurang dikenal jarang sekali menggunakan jasa agen penjualan dan harus mencari strategi lain untuk bisa merebut hati produser. Tapi selain itu, festival akan bisa memilih apakah harus memenangkan film yang bermodal kecil seperti film terakhir yang diproduseri oleh Pedro Almodavar atau sebaliknya film yang mahal oleh Ken Loach. Film-film yang diproduseri oleh produser terkenal pasti akan digaet oleh agen penjualan, dan pasti akan meningkatkan harga jual film.
Setiap kali saya pergi ke Cannes saya selalu berharap menemukan film-film yang bagus dengan harga yang murah, karena kembali lagi, budget adalah masalah yang tidak bisa dihindari untuk pembuatan sebuah film festival.
 
Perjalanan dari Jakarta menuju Cannes sangat lama. Saya berangkat sejak hari Rabu jam 15.05 dari Jakarta menuju Paris, kemudian saya naik TGV (kereta super cepat) menuju Cannes dan tiba pada hari Kamis jam 15.53. Saya langsung bergegas menuju ke ruang registrasi festival. Karena saya mau menghadiri pemutaran film Lewat jam Malam karya smar Ismail yang berlangsung di Salle Bunuel pada jam 17.15, dan saya hanya bisa masuk dan nonton jika saya memakai tanda pengenal yang disediakan.
 
Lewat Jam Malam adalah sebuah film dari tahun 1954 yang direstorasi dengan dukungan dana Museum Nasional Singapura dan juga oleh World Cinema Foundation (pimpinan Martin Scorsese. Restorasi berhasil diselesaikan oleh L’Immagine Ritrovata di Bologna. Film ini merupakan film pilihan JB Kristanto. Beberapa tahun yang lalu Alex Sihar, Lintang Gitomartoyo dan Lisabona ahman (dari Konfiden dan Kineforum) memimpan proses restorasi. Ini merupakan hasil kerja keras mereka yang luar biasa.
 
Kondisi teater pada saat pemutaran 80 % penuh terisi oleh para penonton. Jumlah yang fenomenal untuk sebuah pemutaran film dari tahun 1954. Disana hadir juga direktur Sinematek , Pak Berty dan Pak Ukus dari Dirjen Kementrian Ekonomi Kreatif.
Sepanjang pemutaran film saya tidak berhenti berpikir kenapa film Indonesia direstorasi menggunakan dana Museum Nasional Singapura dan World Cinema Foundation. Dimana uang dari pemerintah Indonesia? Mengapa hanya satu film yang direstorasi, sementara terdapat ratusan film milik Sinematek yang sangat perlu untuk direstorasi mengantre?
 
Saya membayangkan apa ada diantara orang Indonesia yang hadir pada pemutran di Cannes merasa malu bahwa uang yang digunkan untuk merestorasi film karya Usmar Ismail berasal dari asing.
Beberapa minggu yang lalu, terdapat sebuah artikel mengenai restorasi pada koran Kompas dan Jakarta Post. Saya memiliki harapan pemberitaan itu dapat  meningkatkan minat untuk kegiatan restorasi film-film klasik di Indonesia.
 
Kenyataan bahwa Lewat Jam Malam berhasil ditayangkan di Cannes adalah sebuah langkah besar, dan mengundang banyak perhatian. Mari berharap orang-orang di Kementrian Ekonomi Kreatif dan / atau Kementrian Pendidikan dan Kebudayan akan mulai memikirkan hal ini.
 
 
Jumat 18 Mei 2012.
Saya punya janji untuk bertemu dengan Lisabona Rahman. Dia adalah anggota Yayasan Pusat Film Indonesia (Indonesian Film Center Foundation). Saat ini dia sedang studi mengenai restorasi film selama satu setengah tahun di Amsterdam, Belanda. Dia akan selesai pada musim semi 2013. Merupakan tugas saya untuk mencari dana untuk bisa menuntaskan pusat restorasi dimana pada akhirnya tempat dimana dia juga bisa bekerja setelah dia menuntaskan studinya. Kami berbicara mengenai kenyataan bahwa dia mungkin saja akan mendapatkan banyak tawaran dari perusahaan swasta setelah di kembali ke Indonesia dan dia bekerja untuk mereka. Bahayanya perusahaan-perusahaan itu hanya mau melakukan restorasi film-film seperti Tjoet Nyak Dhien karya Eros Djarot atau November 1828 karya Teguh karya. Sementara kami di yayasan mau mengerjakan restorasi untuk semua film, semua koleksi, dan tidak memusatkan satu perhatian pada judul tertentu. Tapi begitu banyak hal yang harus dikerjakan untuk menyelesaikannya, paling tidak perusahaa-perusahaan bisa memulai dengan judul-judul film yang terkenal. Yah semakin banyak film yang direstorasi pada intinya semakin baik.
 
Setelah bertemu dengan Lisa, saya memulai pencarian saya untuk Europe On Screen Film Festival. Saya mendatangi booth Belgium dan Spanyol. Berbicara mengenai film-film yang mereka miliki sepanjang tahun 2010 hingga 2011. Kalau kita ambil film di tahun 2012, saya dapat memastikan akan memakan biaya 1000 dollar untuk biaya pemutaran dan pastinya saya tidak memiliki dana sejumlah itu untuk biaya pemutaran. Kabar baiknya adalah saya berhasil mendapatkan kartu nama orang-orang yang berkaitan dengan promosi film nasional negaranya. Setidaknya nanti sepulangnya saya ke Jakarta saya tahu harus menghubungi siapa dan terlebih mengetahui alamat produser dan agen penjualan jika saya sudah memutuskan memilih film-film tertentu. Inilah tugas utama saya. Memilih film dan mengumpulkan kartu nama.
 
Belgia memiliki sistem yang baik. Biasanya saya mendatangi booth sebuah negara dan saya akan menanyakan  screener (DVD) sebuah film yang saya sukai dan saya akan bisa menonton filmnya nanti setelah saya kembali ke Jakarta. Belgia memiliki sistem untuk para pembeli, festival dan sutradara. Mereka membuat sebuah website yang berisi semua film. Dan nanti apabila saya kontak mereka melalu email setelah saya kembali ke Jakarta, dan menyampaikan kepada mereka film-film apa saja yang ingin saya tonton dan miliki, mereka lantas akan memberikan saya sebuah password dan saya akan dapat menonton film-film tersebut dalam beberapa hari. Jika saya menginginkan film, mereka akan membantu saya menghubungi agen penjualan atau produser untuk memperoleh izin untuk bisa menanyangkan film mereka pada festival.
Melintasi Marche, saya juga melihat booth Indonesia.
 
Sabtu 19 Mei 2012.
Sangat ramai di Cannes. Hari ini adalah hari Sabtu. Minggu pertama berlangsungnya festival dang a hujan. Ribuan turis datang menuju Cannes untuk melihat kemewahan dan kemeriahan. Bagi kami, yang datang untuk alasan pekerjaan, ini bukan sesuatu yang menyenangkan karena harus bersusah-susah jalan dan mengejar pertemuan-pertemuan lain yang menentukan nasibmu.
 
Hari ini saya mendatangi pavilion Romania. Orang-orang ini sangat membantu. Kami mulai melihat katalog film dan nanti setelah sudah dipilih mereka akan mengirimkan DVD film yang saya pilih.
 
Saya juga datang ke pavilion Czech, Slovakia, Turki, Jerman, Swittzerland, Luxemburg, dan Irlandia. Mereka pada umunya sangat membantu karena mereka mengerti bahwa saya secara tidak langsung akan mempromosikan negara mereka di Jakarta dengan menayangkan film-film dari negara mereka.
 
Pada pukul 6 sore saya menemui Isabel dan Raul di pavilion Belanda. Mereka berasal dari festival film documenter terbesar di dunia, Idfa. Saya juga merupakan salah satu programmer Festival Film Dokumenter Internasional di Jakarta. Film festival dokumenter ini akan berlangsung di Erasmushuis di Jakarta, dan saya meminta masukan mereka mengenai film yang akan saya putar di pada festival tersebut di Jakarta.
 
 
Minggu 20 Mei 2012.
Saya mengunjungi pavilion Yunani dan Irlandia
Pada siang hari saya mendiskusikan daftar film favorit saya dengan Rudy Tjio. Rudy adalah seorang Indonesia namun lantas pindah ke Jerman saat dia berusia 17 tahun. Dia menetap disana lebih dari 45 tahun yang lalu. Dia adalah orang yang bertugas menentukan pemilihan film-film yang akan dibeli oleh Bertelsmann di Jerman. Berstelmann adalah sebuah perusahaan besar yang memiliki stasiun TV sendiri di Jerman dan mendistribusikan films. Rudy adalah orang yang membantu saya untuk menyusun program JiFFest.
 
Dia berkeliling 30 minggu setiap tahun untuk menghadiri festival-festival film. Di Cannes dia menonton 5 film setiap hari. Dia memiliki data base disertai catatan mengenai setiap film yang sudah dia tonton. Untuk Europe On Screen saya hanya memiliki dana untuk melakukan perjalan ke Cannes. Hampir tidak mungkin bagi saya menyelenggarakan Europe On Screen tanpa bantuan Rudy.
 
Selama bertahun-tahun saya tidak pernah menonton film di Cannes, tidak satupun. Yang saya lakukan disana hanyalah membuka jaringan dan menjumpai orang-orang, meeting dengan orang-orang. Saya berdiskusi dengan Rudy mengenai judul-judul yang pas untuk festival, dan juga meminta bantuan dia untuk memperoleh DVD dari agen-agen penjualan, produser-produser, atau dari pavilion-paviliun negara-negara.
 
Pada 4.30 saya menemui Direktur Sinematek, Pak Berty. Kami berbicara mengenai film Tiga Dara. Yayasan kami memiliki kesepakatan dengan Eye Film Institute (Museum Film Belanda) bahwa kami akan merestorasi film Tiga Dara. Kami sudah mengirimkan negatif dan positif film nya ke Amsterdam.
 
Eye Film Institute melakukan serangkaian tes pada film Tiga Dara untuk mengetahui cara yang paling tepat untuk merestorasi film ini. Namun ditengah proses, pemerintah Belanda baru saja melakukan pemotongan pada bidang kebudayaan sebesar 20 % hal ini berimbas pada Eye Film Institute. Eye Film Institute berhenti melakukan restorasi Tiga Dara sementara waktu. Saya menyampaikan kepada Pak Berty bahwa saya akan menemui direktur The Eye Film Institute keesokan harinya, Senin mengenai kondisi itu.
 
Pada 5.30 saya memiliki janji dengan seorang produser Belanda, Pim van Collem. Dia mengadakan lomba film dokumenter di Thailand dan dia menginjinkan kami memutar film-film tersebut di Jakarta. Saya akan meminta DVD nya dan menonton film itu.
 
Senin 21 Mei 2012.
Saya mengunjungi pavilun Estonia dan Latvia.
Pada pukul 11.00 saya memiliki janji untuk bertemu Juliette Derosiaux dari Institut Francais d’Indonesie. Kami mendiskusikan film-film Perancis apa saja yang akan diputar di Europe On Screen Film Festival. Sebagai informasi, Kedutaan Perancis akan menyelenggarakan Festival Film Perancis yang akan berlangsung sejak 8 Desember 2012 di Jakarta. Pastinya kami tidak akan mau untuk memutar film-film yang sama pada kedua festival. Tapi Perancis membuat banyak sekali film, maka kita punya banyak sekali pilihan.
 
Pada pukul 1.30 saya bertemu dengan Direktur Eye Film Institute, Sandra den Hamer, di pavilion Belanda. Saya kemudian bertanya mengenai status Tiga Dara. Dia menyampaikan Eye Film Institute tidak memiliki dana untuk melakukan restorasi pada level 4K (level tertinggi), dan Lewat Jam malam sekalipun berhasil direstorasi pada level 2K, oleh karenanya dia akan membahas kemungkinan untuk tetap meneruskan restorasi pada pertemuan selanjutnya. Jika Eye Film Institute ga bisa melanjutkan, saya memiliki waktu hingga akhir tahun untuk tetap melakukan restorasi.
 
Pada pukul 2.30 saya memiliki janji dengan Alex Sihar. Saya menyampaika selamat kepada dia atas kerja keras yang dia (dan yang lain) telah selesaikan dengan merestorasi Lewat Jam Malam. Kami sama-sama berjuang untuk dapat menyelesaikan restorasi. Kami akan bertemu lagi minggu depan di Jakarta untuk melihat apa ada hal-hal yang bisa kami kerjakan bersama. Alex meminta saya menemui Ibu Windu dari Kementira Pendidikan dan Kebudayaan. Pada regulasi mengenai film yang baru diterangkan bahwa kementrian mengalokasikan sejumlah dana untuk keperluan restorasi film.
 
Saya mengunjungi pavilion Lithuania dan Itali. Setelah itu saya kembali berdiskusi dengan Rudi mengenai daftar film. Saya bukan programmer film, saya adalah sutradara film.
 
Pada pukul 6 saya menemui produser Belanda dan berbicara mengenai proyek film saya. Cannes adalah tempat para produser dan pemodal saling bertemu. Itu mungkin aja kalau kita kenal mereka. Kalau kamu ga kenal mereka dan kamu tidak memiliki persiapan menuju cannes kamu akan merasa sangat kesepian, karena kamu ga tahu mau bertemu siapa dan mau bertemu dimana.
 
Selasa 22 Mei 2012.
Pada pagi hari saya mengunjungi pavilion beberapa negara Eropa dan kemudian saya beralih kea gen penjualan. Sebagai pendahuluan saya menemui Gary farkas dari Wild Bunch (agen penjualan). Mereka memiliki film-film unggulan Perancis. Gary bertugas di wilayah Asia Tenggara. Saya berbicara dengan dia mengenai gagasan pembelian film-film dari perusahaannya karena merupakan mimpi saya untuk mendistribusikan film-film Eropa di Indonesia dan bahkan membuka sebuah bioskop di Jakarta berisi film-film Eropa.
 
 
Di malam hari saya memiliki janji makan malam dengan Rudy. Disitu dia membuat daftar film favorit dari tahun 2011 hingga 2012 untuk masing-masing negara Eropa. Dia memilih film-film yang sudah terlebih dahulu dia tonton. Itu pasti pekerjaan yang banyak untuk dilakukan. Dan hal itu sangat membantu saya.
 
Rabu 23 Mei.
Pada pagi ahri saya bertemu dengan Thomas Anslov dari Swedia. Dia memiliki ide yang sangat bagus untuk sebuah film dan meminta saya untuk memproduseri film nya. Saya menyampaikan kepada dia saya menyukai ide nya tapi saya tidak begitu suka naskahnya (yang sebelumnya sudah dia kirim kepada saya satu bulan yang lalu). Saya menawarkan kepada dia jika dia mengijinkan saya untuk merubahya maka saya akan mulai membuatnya kalau dia tidak setuju maka dia bisa mencari sutradara lain. Dan dia setuju untuk member saya kesempatan.
 
Saya mengunjungi lokasi kantor Polandia. Jadi mereka tidak memiliki pavilion tapi mereka memiliki sebuah kantor di La Croisette. Polanida adalah satu-satunya negara yang belum saya kunjungi.
 
Pada 2.30 saya menuju Global Screen (agen penjualan) untuk mendapatkan izin untuk memutar ‘The Heineken Kidnap’ dan ‘Black Butterflies’ pada Europe On Screen Film Festival. Dua film Belanda karya Ritger Hauer yang mereka tangani penjualannya.
 
Saya kembali ke kantor Skandinavia karena mereka menjanjikan saya untuk memberikan film dalam format Blue Ray. 5 film feature, 5 dokumenter, 5 film anak-anak, 5 film klasik. Diantara film-film itu terdapat film-film unggulan seperti ‘Antichrist’ karya Lars von Trier dan film pemenang Oscar ‘In a better world’. Mereka membuat kotak untuk Kedutaan Denmark untuk memungkinkan mereka memutar film Denmark. Sayangnya mereka menghapus hak untuk Eropa tidak untuk seluruh dunia. Jika saya memilih salah satu film saya masih harus menghapus hak untuk Indonesia. Sementara saya disana, saya juga mendengar bahwa orang Swedia dan Norwegia tidak akan mengijinkan saya memutar film mereka menggunakan DVD pada saat Europe On Screen. Mereka ingin film-film yang ditayangkan dengan format 35mm atau DCP (Proyeksi digital). Saya mencoba menjelaskan bahwa pusat-pusat kebudayaan seperti Institut Francais, Istituto di Italiano, Erasmushuis atau Goethe Haus tidak memiliki proyektor 35mm dengan dolby stereo, yang berarti bahwa satu-satunya format yang dapat digunakan adalah DVD. Tidak ada pilihan lan. Saya mengatakan kepada mereka bahwa saya dapat menginstal pemutar BlueRay di tempat pemutaran. Pertama saya akan memilih film. Lalu akan mengirim surat kepada mereka untuk meminta izin untuk dapat menampilkan dalam format BlueRay atau DVD.
 
Akhirnya saya selesai mengunjungi ke 27 negara Uni Eropa. Dan nehara-negara kandidat yang berjumlag 6 negara. Di kamar hotel, saya memiliki sebuah koper penuh berisi katalog. Dan yang paling utama adalah: begitu banyak kartu nama yang dapat saya hubungi sekembalinya saya ke Jakarta. Langkah selanjutnya adalah mengunjungi agen penjualan dan meminta izin. Sangat menarik untuk mengetahui apakah mereka memberikan izin dan apakah mereka memberikan kami peluang memutar film dalam format DVD atau BlueRay.
 
 
Kamis 24 Mei 2012.
Pada pagi hari saya tinggal di dalam kamar hotel saya untuk menajawab surat elektronik. Dan kotak masuk surat elektronik saya penuh dengan surat elektronik yang masuk. Di Marche saya pergi ke TNT. Mereka memiliki stand an mereka menawarkan untuk jasa pengiriman sebuah tas seharga 95 Euro untuk tujuan Indonesia. Katalog yang saya miliki dari 33 negara sangat berat sehingga pasti saya harus membayar kelebihan muatan jika saya membawanya ke dalam pesawat.
 
Saya membayar jasa pengiriman dan mengambil sebuah tas yang mereka sediakan untuk memuat barang-barang yang akan saya kirim. Tidak ada batasan jumlah untuk pengiriman. Tawaran yang sangat bagus. Sisa hari itu saya mengunjungi agen–agen penjualan: Wide, Film Distribution, Film du Losange, Hanway, FilmNation, Match facory.
 
Saya mendapatkan kartu nama dari orang yang menangani festival. Sebagian besar agen penjualan memiliki orang yang secara khusus menangani festival. Hampir semua dari mereka mengatakan bahwa mereka lebih suka film mereka ditayangkan pada format 35mm atau DCP. Untuk film yang lebih tua mereka membuat pengecualian. Tapi ketika saya menjelaskan kembali situasi di Jakarta dan bahwa festival ini akan di gratiskan bagi pengunjung, mereka menjadi lebih fleksibel dan mereka mengatakan akan meminta izin kepada produsen atau sutradara untuk memberikan format DVD atau BlueRay.
 
Mereka memperingatkan saya bahwa jika mereka tidak memiliki DVD atau BlueRay nya maka saya harus menari dan membeli DVD atau BlueRay nya sendiri. Dan mereka menyampaikan bahwa saya masih hars membayar biaya emutaran. Akan lebih baik untuk memperoleh semua film dalam format 35mm atau DCP dan memutarnya pada festival di Blitz atau Studio21 tapi untuk kesemuanya itu saya membutuhkan dana 100.000 dollar, Saat ini EU member saya dana 30.000 Euro. Tidak ada cara lain selain memutarnya menggunakan format DVD atau BlueRay.
 
Jumat 25 Mei 2012.
Pada pagi hari saya mencoba mengisi sebanyak mungkin katalog dan kepingan DVD ke dalam tas yang diberikan oleh TNT. Dan rupanya sangat berat sampai-sampai say atakut tas nya akan robek. Saya menyerahkan tas itu ke TNT di Marche dan saya kembali mengunjungi agen penjualan: Celluloid Dreams, Pathe dan saya juga membuat janji dengan Wild Bunch. Orang yang memiliki wewenang untuk festival menyampaikan cerita yang sama kepada saya. Mereka lebih memilih untuk memutar film dalam format 35mm atau DCP. Namun saya harus membayar biaya pemutaran dan biaya pengiriman print.
 
Akan jadi puzzle untuk mengadakan festival film yang baik dengan dana 30.000 Euro.
 
Di siang hari saya berbicara kepada Rudi dan mendiskusikan bagaimana kita bisa menyelenggarakan festival. Kita membahas film-film apa yang munkin bisa diputar pada festival.
 
Inilah kisah perjalanan saya ke Cannes. Saya masih punya banyak hal yang harus dikerjakan di Jakarta. Pekerjaan rumah saya adalah menonton DVD – DVD dan berdiskusi dengan Rudy film apa yang harus tetap diputar dan mana yang kita lepas. Dan mana yang harus dikejar perolehan izinnya.
 
Saya akan tetap menginformasikan kalian!
Orlow.
Blog Komentar
Tutup komentar Tampilkan semua komentar
Tambah Komentar

Tentang Indonesian Film Center | Kebijakan Privasi | Berkas Hukum | Periklanan | Bantuan | Kontak kami