Login | Daftar
Semua Daftar Pesanan
Kosong
IdFilmCenter
@idfilmcenter
Beritahu teman
Berita
Messageboard
Blog
Bantuan
Kontak kami
Tentang FilmInfo
Beri donasi ke Indonesian Film Center. Bantu kami melestarikan dan merestorasikan Materi Audio-Visual Indonesia. Lihat juga Tentang kami.
Kategori Info:
Sang Kiai (2013)
 
Durasi:
136 Menit
Genre:
Laga, Drama
Produser:
Sutradara:
Penulis naskah:
Perusahaan film:
Situs resmi:
Informasi Dasar
Sinopsis Singkat:
Film ini mengisahkan masa hidup Kyai Hasyim Asy'ari yang begitu berat pada masa perjuangan di Indonesia.
Sinopsis Lengkap:
Tahun 1942 Jepang melakukan ekspansi ke Indonesia. Di Jawa Timur, beberapa KH dari beberapa pesantren ditangkapi karena melakukan perlawanan. KH Hasyim Asy'ari sebagai pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng ditangkap karena dianggap menentang Jepang. Penangkapan ini membuat kericuhan di Tebu Ireng, dan menimbulkan reaksi dari para putra beliau; KH Wahid Hasyim, Karim Hasyim dan Yusuf Hasyim serta deretan para santri: Baidlowi (menantu beliau), Kang Solichin, orang kepercayaan, serta tiga santri muda; Harun, Kamid dan Abdi.

Penangkapan itu membuat situasi pesantren kacau. Maisyaroh–lebih kerap disebut Nyai Kapu–istri KH Hasyim Asy'ari, diungsikan ke daerah Denaran. KH Wahid Hasyim bersama Wahab Hasbullah meminta agar KH Hasyim Asy'ari dibebaskan. Kepala Kempetei yang menahan beliau, tidak bersedia membebaskan. Bahkan KH Hasyim Asy'ari dipindah penjara hingga tiga kali. Mulai dari penjara Jombang, Mojokerto hingga ke penjara Bubutan Surabaya. KH Wahid Hasyim dan KH Wahab Hasbullah lalu meminta bantuan Abdul Hamid Ono, orang Jepang, kenalan keluarga. Sementara proses berlangsung, KH Wahid Hasyim dan KH Wahab Hasbullah mengadakan pertemuan NU di Jakarta, dengan agenda membebaskan para Kiai. Dalam pertemuan tersebut dicapai kesepakatan jalan damai.

Sepeninggal KH Hasyim Asy'ari, sebagian santri memilih hengkang dari pesantren. Harun dan Kamid yang membuntuti saat KH Hasyim Asy'ari ditangkap, mengalami nasib tragis. Kamid ditembak mati, saat kepergok dengan patroli tentara Jepang. Kematian Kamid dan penangkapan KH Hasyim Asy'ari memunculkan kemarahan dalam diri Harun. Berbeda dengan Abdi yang memilih jalan damai mengikuti langkah KH Wahid Hasyim, Harun memilih ikut para militan dalam mencuri ransum tentara Jepang.

Jepang membebaskan para Kiai, termasuk KH Hasyim Asy'ari. Mereka mempertimbangkan bahwa membebaskan para Kiai agar bisa diajak kerjasama. Jepang bahkan mendudukkan KH Hasyim Asy'ari sebagai ketua Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia). Karena tidak berkedudukan di Jakarta, KH Hasyim Asy'ari melimpahkan wewenang pada KH Wahid Hasyim. Beliau memilih menetap di Tebu Ireng.

Melalui Masyumi Jepang minta rakyat melipatgandakan hasil bumi, bahkan melalui ceramah di masjid. Shumubu (departemen agama) yang dipimpin Husein Djajadingrat dan petinggi Shumubu, Wirohadjono melalui media "Suara Muslimin" meminta Masyumi agar menyitir ayat-ayat dalam menggerakkan pengumpulan hasil bumi. Ketegangan antara Masyumi dan Shumubu mulai.

Harun mempertanyakan hal ini pada KH Hasyim Asy'ari. Ia merasa Masyumi berpihak pada Jepang. KH Hasyim Asy'ari menjawab bahwa Masyumi hanya berpihak pada pembesar-pembesar yang adil. Harun kecewa dan keluar dari lingkup pesantren. Abdi yang mengetahui hal itu mencegah. Menurutnya, Harun tidak dapat membaca rencana KH Hasyim Asy'ari. Tapi Harun bersikukuh untuk pergi dari situ.

Jepang kemudian mengukuhkan KH Hasyim Asy'ari sebagai ketua Shumubu sekaligus ketua Masyumi. KH Hasyim Asy'ari menerima jabatan tersebut dengan pertimbangan untuk berjuang lewat dalam. Beliau bisa menolak perintah para santri masuk Heiho, malah terbentuk barisan Hizbullah.

Jepang mulai mengalami kalah perang, tapi mengembalikan kedaulatan kepada Sekutu. Utusan Presiden Soekarno menghadap KH Hasyim Asy'ari. Pesan Presiden Soekarno itu soal hukumnya membela tanah air. Terjadilah Resolusi Jihad di Surabaya. Para Santri bersiap untuk berjihad. Pada titik ini, Harun mulai terbuka matanya. Peristiwa tewasnya Mallaby ini adalah awal perang dahsyat 10 November 1945 yang melibatkan rakyat, berbagai barisan pemuda serta laskar Hizbullah bentukan KH Hasyim Asy'ari yang terdiri dari para santri.
Negara & Tanggal Rilis:
Indonesia, 30 Mei 2013
Klasifikasi: 13+
Bahasa: Bahasa Indonesia
Warna: Warna
Status: Selesai / Rilis
Cast & Crew
Produser
Gope T. Samtani
Sutradara
Rako Prijanto
Penulis Naskah
Anggoro
Pemain:
Pemeran Utama
Agus Kuncoro Sebagai  KH Wahid Hasyim
Ikranagara Sebagai  KH Hasyim Asy'ari
Pemeran Pembantu
Adipati Koesmadji Sebagai  Harun
Ahmad Zidan Sebagai  Gus Dur kecil
Andrew Trigg Sebagai  Brigadir Mallaby
Arswendi Nasution Sebagai  KH Wahab Hasbulloh
Ayez Kassar Sebagai  Baidhowi
Bagus Wahyu Sebagai  Wirohardjono
Boy Permana Sebagai  KH Karim Hasyim
Bung Toni Sebagai  Bung Tomo
Christine Hakim Sebagai  Nyai Kapu
Christoper Briggs Sebagai  Kapten Shaw
Damien Joseph Sebagai  Kapten RC Smith
Dayat Simbaia Sebagai  KH Yusuf Hasyim
Dimas Aditya Sebagai  Hamzah
Dymas Agust Subiyantoro Sebagai  A Mukti
Dymas Shimada Sebagai  Komandan Tentara Jepang
Earnestan Samudra Sebagai  Abdi
Emil Kusumo Sebagai  Kapten Kampetai
Haidar Baswedan Sebagai  TD Kundan
Hasan Sebagai  Mas Mansyur
Hendry Rahadityo Sebagai  Khalik Hasyim
Husni Wardana Sebagai  KH Mahfudz Siddiq
Iang Darmawan Sebagai  KH Zainal Mustafa
Keio Pamudji Sebagai  Abdul Hamid Ono
Martin Brown Sebagai  Kapten Laughland
Meriza Febriani Sebagai  Sari
Nobuyuki Suzuki Sebagai  Seizaburo Okazah
Norman R. Akyuwen Sebagai  Kang Solichin
Prit Timothy Sebagai  Kiai Gufron
Reza Hidayat Sebagai  Saifuddin Zuhri
Richard Alino Sebagai  Husein Djajadiningrat
Royhan Hidayat Sebagai  Khamid
Setyo Adi Sebagai  M Mangundiprojo
Tabah Helmi Nonaka Sebagai  Letjen Kumakichi Harada
Uval Aulia Sebagai  Istri KH Wahid Hasyim
Wisnu Adji Hidayat Sebagai  Ahmad Fathoni
Yasutaka Kitamura Sebagai  Sersan Kampetai
Crew:
Tim Produksi
Produser Eksekutif Priya N. K., Sunil Samtani
Produser Pelaksana Taufik Kusnandar, Tutut Kolopaking
Tim Penyutradaraan
Asisten Sutradara 1 Zulkarnaen Simatupang
Asisten Sutradara 2 Harfan Agustriyansyah
Pemilih Peran Sanca Khatulistiwa
Tim Tata Kamera
Penata Kamera Muhammad Firdaus
Sinematografer / Operator Kamera Marcelinus Batara Gumpari
Asisten Kamera 1 / Focus Puller Hanafi Malik
Asisten Kamera 2 / Clapper-Loader Geno Akib
Tim Tata Cahaya
Penata Cahaya Haryanto
Tim Tata Suara
Perekam Suara Yusuf A. Patawari
Tim Tata Artistik
Penata Artistik Frans X. R. Paat
Asisten Penata Artistik Frans Bogor, Ibanez Nasution
Tim Tata Kostum
Penata Kostum Gemailla Gea
Tim Tata Rias
Penata Rias Danny Boris Saragi
Tim Pasca Produksi
Penyunting Adegan Cesa David Luckmansyah
Penata Suara Khikmawan Santosa
Publicity & Promotions
Fotografer Rezha P. N.
Produksi:
Production Companies PT Rapi Films
Materi Promosi
Galeri Foto
Trailer Film
» Sang Kiai
Festival & Penghargaan
Festival Kota, Negara Tahun Penghargaan Penerima Hasil
Festifal Film Indonesia Semarang, Indonesia 2013 Film Terbaik (Piala Citra) Gope T. Samtani Menang
Festifal Film Indonesia Semarang, Indonesia 2013 Sutradara Terbaik (Piala Citra) Rako Prijanto Menang
Festifal Film Indonesia Semarang, Indonesia 2013 Pemeran Utama Pria Terbaik (Piala Citra) Ikranagara Nominasi
Festifal Film Indonesia Semarang, Indonesia 2013 Pemeran Pendukung Pria Terbaik (Piala Citra) Adipati Koesmadji Menang
Festifal Film Indonesia Semarang, Indonesia 2013 Pemeran Pendukung Wanita Terbaik (Piala Citra) Meriza Febriani Nominasi
Festifal Film Indonesia Semarang, Indonesia 2013 Pengarah Artistik Terbaik (Piala Citra) Frans X. R. Paat Nominasi
Festifal Film Indonesia Semarang, Indonesia 2013 Penata Suara Terbaik (Piala Citra) Khikmawan Santosa Menang
Festifal Film Indonesia Semarang, Indonesia 2013 Penata Musik Terbaik (Piala Citra) Aghi Narottama Nominasi
Ulasan
Trivia
Belum ada informasi.
Sumber dari: filmindonesia.or.id
Diskusi Film ini
Tutup topik
Tentang Indonesian Film Center | Kebijakan Privasi | Berkas Hukum | Periklanan | Bantuan | Kontak kami